Yo, ini post pertama gue, Kali ini gue pengen post tentang 'what is life?'.
Kita tahu bahwa tumbuhan, hewan, manusia, adalah suatu bentuk dari kehidupan. Kita dengan mudah dapat mengatakan bahwa logam, gas, dan air bukanlah makhluk hidup. Tentu saja kita dengan mudah bisa membedakan makhluk hidup dan benda mati. Dan pastinya definisi kehidupan tidak perlu dipertanyakan lagi, kan?
Ternyata, konsep mengenai apa itu kehidupan masih berbeda-beda. Setiap orang atau kelompok orang memiliki definisi yang berbeda untuk kehidupan. Bah, kok bisa?.
Mari kita lihat pandangan mengenai kehidupan dari berbagai perspektif.
Sebagian besar dari kita menganggap bahwa kehidupan ada karena adanya “energi kehidupan”, seperti roh, jiwa, dll. “Energi” tersebutlah yang menggerakkan kehidupan; benda mati tidak memiliki energi kehidupan sehingga tidak mungkin bisa menjadi hidup. Konsep ini disebut vitalisme. Paham ini mengimplikasikan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang spesial.
Agama-agama pada umumnya menjelaskan kehidupan berdasarkan prinsip vitalisme. “Energi kehidupan” berasal dari Tuhan atau dewa, sehingga kehidupan hanya dapat muncul karena adanya Tuhan atau dewa. Contohnya adalah kisah penciptaan dalam Alkitab, diceritakan bahwa Tuhan menghembuskan nafas kepada Adam yang dikatakan sebagai manusia pertama.
Mungkin paham ini memang sekilas masuk akal. Kehidupan adalah suatu sistem yang kompleks dan bentuk-bentuk kehidupan di Bumi sangat beragam. Tidak mungkin kehidupan muncul dengan sendirinya tanpa campur tangan Tuhan atau dewa, kan? Tidak mungkin bentuk-bentuk kehidupan yang kompleks dan beragam lahir hanya dari proses-proses alami, kan?
Sebenarnya, sains memiliki bukti-bukti bahwa kehidupan dapat muncul dari proses fisika atau kimia sederhana. Dan keberagaman makhluk hidup dapat dijelaskan oleh teori evolusi. Namun, sebelum melihat kehidupan melalui perspektif sains, mari kita lihat dahulu kesalahan dalam konsep vitalisme.
Untuk memahami realita, tentu saja kita perlu menguji apakah hipotesis kita benar atau salah melalui eksperimen. Hal ini adalah prinsip dasar sains. Konsep vitalisme justru menganggap “energi kehidupan” sebagai sesuatu yang tidak bisa diukur dan dilihat. Lalu, bagaimana kita tahu kalau “energi kehidupan” sesuai dengan kenyataan?
Mari kita lihat kehidupan melalui perspektif sains.
Pertama-tama, apa saja ciri-ciri kehidupan? Walaupun berbeda dari satu sumber dengan yang lain, karakteristik yang umumnya diterima sebagai ciri kehidupan adalah: 1) organisasi struktur, 2) pertumbuhan, 3) adaptasi, 4) iritabilitas, 5) metabolisme, 6) homeostasis, dan 7) reproduksi. Ciri ketujuh, reproduksi, patut digarisbawahi. Reproduksi dapat dipandang sebagai transfer informasi genetik. Seorang ahli biologi evolusi bernama Richard Dawkins, dalam bukunya The Selfish Gene, beranggapan bahwa reproduksi (atau replikasi) lah ciri.yang mendefinisikan kehidupan. Kehidupan adalah usaha untuk mempertahankan keberadaan informasi genetik. Hal ini dilakukan melalui DNA.
Apakah kehidupan dapat muncul hanya dari proses-proses fisika dan kimia yang terjadi secara alami? Memang, kita belum dapat mengetahui bagaimana sebenarnya asal-usul kehidupan. Namun, molekul-molekul sederhana penyusun kehidupan, seperti gula sederhana dan amonia, dapat terbentuk melalui proses fisika dan kimia saja (tanpa agen biologis). Hal ini dibuktikan melalui percobaan Urey-Miller yang dilakukan pada tahun 1952. Percobaan tersebut mengimplikasikan bahwa kehidupan tidak harus lahir dari kehidupan sebelumnya.
Erwin Schrödinger, seorang fisikawan, pernah berusaha melakukan pendekatan dengan fisika dan kimia terhadap kehidupan. Dan sekarang kita bisa memahami bagaimana suatu sistem hidup bekerja. Metabolisme yang terjadi dalam tubuh kita adalah reaksi-reaksi kimia yang dilakukan untuk menjaga kestabilan energi. Pergerakkan otot terjadi akibat kontraksi dan relaksasi sel-sel otot akibat kinetika molekul kimia dengan menggunakan energi. Bahkan berpikirpun didasarkan pada prinsip fisika dan kimia: transfer sinyal melalui impuls listrik dan neurotransmiter.
Kita telah melihat proses-proses biologis yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup dapat dipahami berdasarkan konsep fisika dan kimia. Tidak perlu “energi kehidupan” yang tidak terbukti kebenarannya; proses kehidupan dapat dipahami melalui sains.
Namun, penjelasan kehidupan yang demikian mengimplikasikan bahwa kehidupan hanyalah bentuk lain dari proses fisik. Apakah munculnya kehidupan hanyalah konsekuensi dari hukum-hukum fisika? Apakah kehidupan tidak memiliki nilai khusus seperti yang ditawarkan oleh agama dan konsep vitalisme?
Bagaimana anda memandang hidup adalah keputusanmu. Namun, selalu tanggapi suatu gagasan secara kritis. Terimalah suatu gagasan berdasarkan bukti dan logika, bukan berdasarkan apa yang anda harapkan. Karena kenyataan dalam dunia, termasuk mengenai kehidupan, tidak selalu sesuai harapanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar